ANDA SEDANG BERSELANCAR  DI WEBSITE DESA KARANGSARI: "MEWUJUDKAN DESA YANG ASPIRATIF, SOLUTIF, INOVATIF DAN KREATIF (ASIK)"

 

Ketika Kustiah hanya tinggal Monumen dan Nama

DESA KARANGSARI KULON PROGO 08 Oktober 2019 15:25:20 Berita Nasional

Kangsri News(8/10). Sebagian Orang tak kenal dengan Nama Kustiah tapi kalau disebut dengan Nama Nyi. Ageng Serang orang akan mengenal beliau sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.   Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiah Wulaningsih Retno Edi (Serang, PurwodadiJawa Tengah1752 - Yogyakarta1828). Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara.

Pada periode tahun 1755 - tahun 1830 masyarakat belum mengenal arti emansipasi. Seperti diketahui, kedudukan wanita pada waktu itu tidak seperti status wanita abad ke 20. Namun Nyi Ageng Serang adalah seorang pejuang wanita yang maju ke medan pertempuran melawan pasukan penjajah dalam Perang Diponegoro pada tahun 1825 - 1830. Dalam berbagai pertempuran yang dipimpin oleh Nyi Ageng Serang dan cucunya Raden Mas Papak selalu dapat mengalahkan Belanda, dengan taktiknya yang terkenal kamuflase daun lumbu (daun keladi). Jelas kiranya bahwa perjuangan Nyi Ageng Serang pada waktu itu merupakan suatu jawaban tantangan yang tepat pada zamannya. Nyi Ageng Serang sebagai pahlawan wanita yang berjuang untuk nusa dan bangsanya.

Landasan perjuangan Nyi Ageng Serang adalah berjuang melawan penjajahan, membela martabat bangsa dan tanah airnya. Ia melihat rakyat dipaksa mengikuti jejak dan perintah kaum penjajah, tanah rumah yang disayangi, dikuasai oleh bangsa lain, hasil-hasil yang di kerjakan dengan tangan sendiri, dimiliki bangsa lain. Keadaan masyarakat yang sudah sedemikian menderita inilah yang selalu menjadi pusat pemikirannya. Nyi Ageng Serang lebih banyak mementingkan nasib rakyat dari pada kepentingan pribadi. Hal ini dapat diketahui dari sikap Kustiah ketika tinggal di Kraton Yogyakarta. Waktu itu R.M. Sundoro (Putera Mahkota) dengan terus terang meminta agar Kustiah bersedia menjadi calon permaisuri. Namun Kustiah menjawab dengan sopan dan hormat sesuai dengan pendiriannya yaitu: "Apa arti hidup kalau hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, lebih baik membicarakan nasib rakyat". Setelah mendengar jawaban Kustiah, Pangeran Sundoro merasa agak malu, karena yang sering dibicarakan adalah soal cinta. Namun sesungguhnya pendirian Kustiah ini menggembirakan hatinya. Pandangan-nya terhadap derita rakyat semakin membangkitkan semangatnya untuk lebih bersikap tegas terhadap Kompeni Belanda. Ayahandanya dahulu selama masih menjadi 12 pangeran. jalan hidupnya juga penuh dengan perjuangan. Ayahnya, yang dahulu bemama Pangeran Mangkubumi, amat terkenal sebagai seorang pejuang yang melawan Kompeni Belanda. Mengapa dirinya tidak mengikuti jejak ayahnya melawan Kompeni Belanda.

Hatinya semakin gemas dan semangatnya semakin meluap-luap, semangat patriotik yang menggelora di dalam jiwanya telah dicetuskan di dalam 19 semboyannya "Biarkan aku mati dengan sukarela untuk kepentingan bangsaku seribu tahun nanti". Jelas perjuangan perjuangannya bukan untuk kepentingan pribadinya tetapi mencerminkan tujuan masa depan untuk bangsa dan negaranya, untuk generasi mendatang. Hampir seluruh bagian dari hayatnya ia abdikan kepada kepentingan rakyat banyak. Apa yang pemah dirasakan oleh rakyat dirasakannya pula. Penderitaan dan tekanan bathin selama hayatnya datang silih berganti, sehingga membutuhkan bagian terbesar tenaga yang ia miliki. Pada masa perjuangan phisik ia telah menggunakan seluruh tenaganya, sebagai seorang wanita berusia tua yang sanggup memimpin suatu perang gerilya yang penuh dengan hambatan dan tantangan. Oleh karena itu sisa waktunya sebenamya cukup untuk beristirahat menikmati hari tua. Tetapi pejuang tetap pejuang, pahlawan tetap pahlawan, tidak mengenal istirahat, setiap kesempatan ia pergunakan untuk berjuang walau hanya dalam bentuk moral. Masa tuanya ia habiskan untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi berikutnya melawan penjajah Belanda. Nyi Ageng Serang telah memberikan segala-galanya yang ia miliki. Jiwa raganya diabdikan pada rakyat. Nyi Ageng Serang pemah jaya dalam medan peperangan, sempat mempesona setiap insan pejuang. Tetapi, manusia Nyi Ageng Serang tetap manusia ummat llahi. Tiada gading yang tak retak, tiada keabadian dalam ummat-Nya. Hidupnya hanyalah sekedar mengemban beban suci dari-Nya. Ia pahlawan nasional yang hampir terlupakan, mungkin karena namanya tak sepopuler R.A. Kartini atau Cut Nyak Dhien. Sepatutnya kita sebagai warga Kulon Progo meneladani Perjuangan Beliau. Sehingga perjuangan beliau bisa kita lanjutkan dalam mengisi Kemerdekaan ini, sehingga kedepan Nyi. Ageng Serang tetap dikenang karena perjuangannya bukan karena monumennya.(Dnt)

Sumber : Nyi. Ageng Serang http://repositori.kemdikbud.go.id/10519/4/nyi ageng serang.pdf

                https://id.wikipedia.org/wiki/Nyi_Ageng_Serang

 

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Website Desa ini :
Terbaik 3 Jumlah Penggunaan Layanan Bulan September Tahun 2019

Website Desa ini :
Terbaik 2 Jumlah Pengunjung Bulan September Tahun 2019

Wilayah Desa

Aparatur Desa

KASI PEMERINTAHAN Kepala Urusan Perencanaan Dan Keuangan Kepala Seksi Kemasyarakatan Sekretaris Desa KAUR UMUM, APARATUR DESA DAN ASET Kepala Desa Kasi Pembanguanan & Pemberdayaan

Sinergi Program

Komentar Terkini

Info Media Sosial

FacebookInstagram

Lokasi Kantor Desa

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung