You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Kalurahan KARANGSARI

Kap. PENGASIH, Kab. KULON PROGO, Prov. DI Yogyakarta

Seni Tari Angguk : Menghibur Mandor Tambang Belanda H.W. Van Dhsen


Seni Tari Angguk : Menghibur Mandor Tambang Belanda H.W. Van Dhsen

SINOPSIS :

Persembahan Kontingen Kalurahan Karangsari pada Gelar Potensi Desa Kantong Budaya 2021 ini, turut didukung oleh 10 orang penari, 8 orang pengrawit, serta 2 orang sinden/penyanyi yang tergabung dalam Kelompok Seni Tari Angguk Putri "Sekar Budaya" pimpinan Bapak Sukarjo, aM.Pd. Didampingi penata iringan Bapak Sudjiman dan penata Tari oleh Saudara Dian.

Nama kelompok seni tari Angguk "Sekar Budaya" sendiri, diambil dari kata Sekar dan Budaya (baca : Budoyo). "Sekar" berasal dari suku kata "Se-" bermaksud "Seniman" dan "Kar-" adalah kependekan dari kata Karangsari yang bermaksud wadah bagi para pelaku seni yang tinggal di wilayah Kalurahan Karangsari.

Sekar yang berarti bunga memiliki makna filosofis sebagai sebuah daya tarik, dan mengharumkan. Mengandung pengharapan dari suatu cipta atau karya seni yang bisa dinikmati keindahannya, kecantikanya, keluwesan, dan kerampakan-nya, sehingga diharapkan mampu menarik, memikat dan menghibur bagi siapapun yang melihat dan mendengarnya.

Sedangkan Kata "Budaya" adalah penggabungan dua kata "budi" dan "daya". Budi bermaksud bergerak/gerakan, karya, ataupun kerja. Sedangkan dalam diri manusia, "daya" bermaksud kekuatan atau kemampuan diri yang timbul dari pikiran, perasan, jiwa, dan karsa.

Budaya merupakan hasil karya manusia yang tergabung dari kekuatan jasmani dan rohani yang bersifat menghasilkan sebuah materi seperti uang, kelompok, paguyuban, kesenian, dsb. Disi lain, budaya juga membuahkan sifat berupa keindahan, kecantikan, kerukunan, dan juga kebahagiaan.

Pada Gelar Potensi Desa Kantong Budaya Kabupaten Kulon Progo 2021 kali ini, Kelompok Seni Tari Angguk Putri "Sekar Budaya" Karangsari, mengajak anda semua kembali pada memori sejarah perjuangan hidup warga desa Karangsari Tempo Doeloe.

Tatkala sebagian warga Desa berjuang demi sesuap nasi, menghidupi keluarganya dengan berpeluh sakan di dalam panasnya lorong Goa. Meregangkan urat nadi, bahkan bertaruh nyawa, menjadi buruh tambang Mangaan (baca : mankhan) di suatu lokasi pertambangan yang kala itu bernama "Kembang" dan Kliripan di bawah perusahaan kolonial Belanda.

Tidak hanya lelaki, kaum perempuan desa Karangsari Tempo Doeloe juga mengambil peran dengan gigih, membantu kaum kelaki memperjuangkan penghidupan bagi keluarga.

Diantara mereka, berjuang melalui jalur seni dan budaya. Seni Tari Angguk menjadi salah satu budaya lokal yang sangat menghibur, di tengah kerasnya kehidupan Desa Karangsari Tempo Doeloe.

Bagaimana kepiawaian mereka dalam mempersembahkan sebuah hiburan seni tari?

Berikut ini, terimalah persembahan Seni Tari Angguk Putri "Sekar Budaya" Karangsari, dalam sekelumit cerita, berjudul :

Menghibur Mandor Tambang Belanda, H. W. Van Dhfsen (Baca : Dusen).

Jadwal Perform :

>> Selasa, 8 Juni 2021

>> Pukul 20.30 WIB

>> Auditorium Taman Budaya Kulon Progo

>> Live Streaming Via Channel YouTube Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo.

Bagikan artikel ini: